Pasca Festival, Megalitikum Maek Layak Masuk Warisan Dunia

Payakumbuh, Presindo.com — Rangkaian Festival Maek sukses digelar di Nagari Maek Kabupaten Limapuluuh Kota. Berkat kejelian Ketua DPRD Sumbar kini tabir kekayaan budaya di Nagari Maek Limapuluh Kota mulai terangkat. Supardi mengganggarkan Pokirnya untuk festival Maek karna melihat warisan budaya yang kaya di daerah itu.

Dalam prescon dengan para jurnalist di Luak 50 (Payakumbuh-50 Kota) banyak muncul asa pada acara Pasca Festival itu untuk terus melanjutkan perjuangan Supardi meski dirinya nanti tak lagi menjadi Anggota DPRD Provinsi.

“Jadi apa setelah ini, jangan sampai disini saja. Maek harus gampang diakses, infrastruktur mesti ditingkatkan. Pemeliharaan Megalit membutuhkan anggaran. Megalitikum Maek ini dalam catatan arkeolog dan peneliti merupakan yang tertua dan berperadaban tinggi. Pemprov bersama Pemkab harus terus berupaya melanjutkan pengembangan potensi ini,” harap Ketua SMSI Luak 50, Syafri Ario.

Supardi menjelaskan bahwa Megalitikum Menhir Maek sudah diusulkan menjadi cagar budaya provinsi dan sedang diupayakan menjadi warisan dunia. Setelah ditetapkan kemudian ia akan terus mendorong pemerintah kabupaten dan pemprov untuk mengembangkannya.

Direktur Festival Maek mengatakan sama halnya dengan masyarakat Maek ia juga menaruh mimpi dan harapan disana. Ia menilai masyarakat Maek juga sangat terbuka untuk menyambut peneliti dan pengunjung.

“Sejauh ini sudah banyak para peneliti yang datang ada dari Jepang dan Mesir. Mereka memberikan saran perlu ada informasi atau museum. Ini yang perlu ditindak lanjuti kedepan,” jelasnya.

Media diharapkan bisa menodorong Bagaimana peran serta pengadaan museum tersebut. Sebelumnya Unand juga telah menjadikan Maek menjadi objek penelitian berkelanjutan.

“Maek juga menjadi pariwisata khusus, menhir, simbol-simbol, bukik posuak yang termasuk unik di dunia. Pembangunan pasca festival, kami juga berharap siapa nanti di DPRD Sumbar bisa menyalurkan pokirnya,” ujarnya.

Kemudian katanya perlu ada badan pengelola atau komunitas masyarakat pengelola. Tidak hanya pemerintah namun perlu ada ekosistem kebudayaan di masyarakat.

“Alhamdulillahnya Maek masyarakatnya sudah siap menerima pengunjung. Sudah punya kesadaran wisata yang tinggi. Kita tak berhenti disini, kita akan gelar diskusi juga di daerah luar agar memancing orang untuk datang,” paparnya.

Supardi becerita eksplorasi Maek ini sudah diawali banyak FGD, disana ia mengatakan tidak ada motif kampanye di Maek. Ia menegaskan tidak ada nuansa politis.

“Kegiatan sudah dimulai sejak 2022 hingga saat ini. Jika seandainya Maek diakui sebagai warisan dunia kita akan minta dana APBN. sehingga mudah membangun infrastruktur di Maek,” kata Supardi.(Syf)