PRESINDO.com | Kota Langsa – Kepala Sekolah SMK Negeri 3 Langsa, diduga menunjukkan sikap elergi terhadap wartawan saat ditemui oleh awak media beberapa kali, Padahal, sebagai pimpinan sekolah di ranah pendidikan, semestinya beliau memiliki etika yang baik dalam menerima wartawan, mengingat media massa merupakan salah satu pilar demokrasi dan sebagai alat kontrol sosial bagi masyarakat dan pemerintah.
Beberapa kali tim media mencoba menghubungi dan bertemu dengan Ibu Kepsek, namun selalu menemui kendala. Saat tim media datang ke sekolah, mereka dihadang oleh penjaga sekolah yang dikenal dengan sapaan Pak Sapam. Ketika tim media bertanya, “Izin Pak Sapam, adakah Ibu Kepsek di kantor?” Pak Sapam menjawab dengan nada terbuka, “Ibu Kepsek baru saja keluar, Pak.” Tim media pun menanggapi, “Oh, baiklah. Mungkin besok saya akan datang kembali. Tolong sampaikan kepada Ibu Kepsek bahwa saya ingin bertemu dengannya.” Pak Sapam pun berjanji akan menyampaikan pesan tersebut.
Namun, hingga dua bulan berlalu, tidak ada respons dari Ibu Kepsek. Tim media bahkan telah menitipkan nomor WhatsApp kepada Pak Satpam untuk dihubungi, tetapi nomor tersebut hingga kini belum juga direspon. Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa Ibu Kepsek sengaja menghindari wartawan, padahal seharusnya sebagai pemimpin pendidikan, ia harus bersikap terbuka dan bermitra dengan media sebagai bagian dari kontrol sosial.
Rilisan ini akhirnya sampai ke meja redaksi dan diputuskan untuk diterbitkan pada Senin, 10 Februari 2025. Sikap Ibu Kepsek yang diduga elergi terhadap wartawan ini dipertanyakan oleh banyak pihak, terutama mengingat peran media sebagai pilar demokrasi yang seharusnya didukung oleh semua elemen masyarakat, termasuk pemimpin di bidang pendidikan.
Banyak pihak yang menyayangkan sikap Ibu Kepsek tersebut. Sebagai pemimpin pendidikan, diharapkan ia dapat menjadi contoh dalam hal transparansi dan keterbukaan terhadap media. Media massa memiliki peran penting dalam mengawasi kinerja pemerintah dan institusi publik, termasuk sekolah. Sikap yang kurang kooperatif dari Ibu Kepsek ini dinilai dapat merugikan citra sekolah dan pendidikan secara umum.
Diharapkan Ibu Kepsek dapat segera merespons dan membuka komunikasi dengan media. Keterbukaan dan kerjasama yang baik antara pemimpin pendidikan dan media akan menciptakan lingkungan yang lebih transparan dan akuntabel, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan.
Berita ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi bagi semua pemimpin di bidang pendidikan untuk lebih menghargai peran media sebagai mitra dalam membangun pendidikan yang lebih baik dan transparan.
Hendrik
