Pembangunan Gerbang Kota Payakumbuh Menuai Polemik dari Tokoh Masyarakat

Payakumbuh, Presindo.com — Sejumlah tokoh masyarakat di Payakumbuh menolak pembangunan gerbang selamat datang di kawasan Ngalau, Kelurahan Balai Panjang.

Meski sebelumnya ada klaim dari sejumlah niniak mamak telah sepakat atas pembangunan gerbang tersebut dengan ditandai pemancangan awal untuk pembangunan gerbang tersebut pada Jumat tgl 23/05/2025, lalu.

Dalam kesempatan itu, Wakil Wali Kota Payakumbuh Elzadaswarman, hadir langsung dalam kegiatan itu bersama Plh Kepala Dinas PUPR Rajman, Camat Payakumbuh Selatan Resti Desmila, Lurah Balai Panjang, Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Limbukan PB. Dt. Mogek Nan Itam, Ketua LPM Balai Panjang dan ketua RT setempat.

Wakil walikota mengatakan bahwa pembangunan gerbang ini bukan dimaksudkan sebagai penanda batas administratif antara Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota, ataupun batas wilayah ulayat Nagari.

“Ini bukan tugu batas wilayah, tetapi gerbang selamat datang agar masyarakat mengetahui bahwa mereka telah memasuki Kota Payakumbuh, kota yang kita kenal sebagai The City of Randang,” kata Wawako Elzadaswarman itu.

Namun di balik niat Pemko Payakumbuh untuk mendirikan gerbang kota mendapatkan suatu kontra di tengah pemuka masyarakat.

Yanuar Ghazali SE. Selaku pucuak adat atau Rajo Nagari Limbukan, menyahut atas tidak disetujui nya pembangunan tersebut.
Min/25/5/2025.

“Satau saya tugu selamat datang itu, pasti langsung menjadi batas kota. berarti perencanaan yang dilakukan suatu pembodohan terhadap niniak mamak, yang ada di kenagarian limbukan,” ujarnya.

Apalagi nanti akan menimbulkan keracuhan polemik di daerah. jangan timbul saling Klem suatu batas batas di wilayah kota maupun kabupaten di tengah masyarakat.

Tentulah dengan perencanaan hal ini, kita harus mengkaji ulang, dampak yang akan terjadi untuk kedepannya

Yanuar Ghazali menambahkan Di samping pembuatan gerbang kota, juga bisa menimbulkan beberapa kerugian. Secara umum, kerugian ini bisa terkait dengan biaya, dampak lingkungan, dan potensi gangguan terhadap lalu lintas.
Ada beberapa kerugian potensial yang perlu dipertimbangkan oleh pemko Payakumbuh.

DT Paduko Saruanso selakku niniak mamak limbukan menambahkan.
“Ambo selaku niniak mamak ka lV suku Limbukan kurang sependapat, bahwasanya rencana pemko mendirikan gerbang selamat datang itu.

“Bahasa, dan untuk kecantikan kota saja.
Tetapi bagi kami dan masyarakat tentu ini akan menjadi polemik di suatu saat nanti.
sebab sudah di pastikan gerbang dan batas tentu sudah di artikan sama artinya. Dan jika pemerintah masih ingin juga membangun suatu gerbang, alangkah di dekat gerbang yang lama, yang roboh dulu”. ungkap Dt Paduko

Begitupun Niniak mamak Nagari balai panjang Dt Rajo nan sati dari pasukuan sipisang memberikan komentar positifnya. Sedikit dari pandangan masyarakat yang saya dengar dan ikuti. jika pemko masih ingin juga mendirikan gerbang kota alangkah lebih bagus di dekat padang sikali. Di karenakan PBB/administrasi nya sudah masuk ke balai panjang.

Mantan wakil bupati Limapuluh Kota Ferizal Ridwan menambahkan. Dalam hal pembangunan gerbang itu sepanjang telah di rencanakan dengan baik sangat bagus.

Namun karena ini gerbang dan secara lansung mengisyaratkan batas, maka semua pihak mesti dilibatkan baik Pemda kota maupun Pemda 50 kota. dan tak kalah penting adalah Ninik mamak atau KAN Yang bersepadan lansung, tidak bisa hanya sepihak dan dipasang seperti klem sepihak saja.

Urusan batas daerah pihak propinsi juga mesti mengetahui dan memfasilitasinya, agar jangan terjadi heboh dibelakang hari.
Pada tahun 90-an, pernah ada gerbang di piladang dengan kawasan ngalau, dibangun dilokasi wilayah 50 kota. karena ada MOU Nya antar kedua daerah.

Maka dapat di sepakati dibangun di lokasi strategis wilayah 50 kota, walau batas antara Kota Payakumbuh dengan 50 kota tidak persis disitu ,dan beberapa tahun belakangan ini sempat jadi polemik dan akhirnya dirobohkan, maka saran kita, belajar dari pengalaman, itu mesti ada MOU dan beradminitrasi antara kedua daerah yg diketahui propinsi,” tutup Ferizal Ridwan.

Apakah pantas dalam kondisi dan efisiensi kota yang saat ini sedang lesu, dan lemah gerbang akan di bangun? Tentu ini hanya membuang anggaran biaya Konstruksi yang tinggi dalam Pembangunan gerbang yang di maksud.

Terutama yang megah dan rumit, bisa menelan biaya yang sangat besar. dan setelah selesai dibangun, gerbang kota juga membutuhkan biaya pemeliharaan yang berkelanjutan, seperti perbaikan, pembersihan, dan perawatan landscape.

Begitupun biaya operasional Jika gerbang kota dilengkapi dengan fasilitas seperti lampu, sistem keamanan, atau petugas, akan ada biaya operasional yang harus ditanggung oleh pemerintah dan dapat menimbulkan polemik antar dua daerah.

Indra A