Galuguah kapur IX. presindo.com — Di tengah hamparan perbukitan yang hijau di wilayah Galuguah, Kecamatan Kapur IX suasana pagi ini terlihat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dulu, saat musim panen tiba, warga sibuk memanen dan mengolah gambir tanaman yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan hidup utama masyarakat di nagari ini. Namun kini, pemandangan itu perlahan berganti puluhan warga turun ke sungai dan parit-parit kecil, membawa alat sederhana berupa nampan, saringan, dan cangkul, berharap butiran emas dapat menjadi pelita di tengah gelapnya keterbatasan ekonomi.
Kondisi ini bermula dari harga gambir yang terus-menerus bergejolak dan tak menentu dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian besar masyarakat Galuguah memang menggantungkan sepenuhnya kehidupan ekonomi dari hasil perkebunan gambir dan pertanian. Ketika harga gambir di pasar terus merosot dan tidak stabil, pendapatan warga pun ikut merosot tajam, bahkan tak jarang hasil panen tak sebanding dengan biaya perawatan kebun dan tenaga yang dikeluarkan. Pilihan yang tersisa pun sempit demi menyambung hidup,ujar salah seorang Nara sumber yg tidak mau di ungkapkan namanya. memberi makan keluarga, dan membiayai kebutuhan sehari-hari, mereka akhirnya beralih menjadi pendulang emas secara tradisional di wilayah Galuguah, tepatnya di kawasan Kapur IX 24/8/2026
“Kami tidak ingin meninggalkan kebun dan adat nenek moyang kami, tetapi perut harus tetap kenyang, anak-anak tetap butuh sekolah,” ungkap salah seorang warga dengan nada pasrah namun teguh.24/8/2026
Namun, menjadi pendulang emas tradisional bukanlah jalan yang mudah dan menjanjikan. Hasil yang didapat sangatlah tidak menentu. Ada hari-hari di mana setelah berpanas-panas dan bekerja keras dari pagi hingga sore, mereka berhasil menemukan butiran-butiran kecil emas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari. Namun tak jarang pula, seharian berlelah-lelah, tubuh basah kuyup, pulang dengan tangan kosong tanpa sepeser pun hasil. Cuaca yang berubah-ubah, debit air sungai yang naik turun, serta keterbatasan alat yang digunakan membuat pekerjaan ini penuh ketidakpastian. Meski begitu, semangat dan harapan para pendulang itu tak pernah surut. Setiap pagi, mereka kembali berangkat dengan wajah yang penuh keyakinan, percaya bahwa rezeki itu ada di mana-mana, asalkan mau berusaha dan bersyukur.
Bagi masyarakat Galuguah, kegiatan mendulang emas ini bukan sekadar soal mencari keuntungan sesaat atau mengikuti arus semata. Lebih dari itu, mereka memandangnya sebagai bentuk penghormatan terhadap amanah leluhur: mengambil rezeki yang ada di bumi, tanpa merusak apa yang telah dititipkan Tuhan. Mereka tetap berpegang teguh pada prinsip adat — mengambil secukupnya, tidak merusak aliran air, tidak merusak pepohonan, dan tetap menjaga kelestarian alam yang menjadi rumah bagi mereka.
“Kami sadar, hasil dari mendulang ini belum tentu sebesar hasil tambang besar, dan belum tentu setara jika dibandingkan dengan masa kejayaan gambir dulu. Tetapi di sini kami menemukan ketenangan batin,” ujar warga lainnya. “Kami tidak merusak alam, kami tetap menjaga adat istiadat, dan kami berusaha dengan tangan sendiri. Itu adalah kebanggaan tersendiri bagi kami.”
Di tengah segala keterbatasan dan ketidakpastian itu, satu hal yang tak pernah pudar adalah semangat untuk terus berjuang. Warga Galuguah membuktikan bahwa ketika satu pintu rezeki tertutup, mereka akan mencari pintu lain dengan cara yang halal dan terhormat. Mereka berharap, suatu saat nanti harga gambir akan kembali membaik, dan mereka dapat kembali ke kebun — tanah yang menjadi sumber kehidupan sejati. Namun untuk saat ini, di pinggiran sungai Kapur IX itu, semangat juang dan ketabahan warga Galuguah menjadi bukti nyata. betapa pun beratnya cobaan hidup, semangat yang tulus dan juga keyakinan yang teguh takkan pernah pudar. (Inyiak pTP)







