Pandeglang, Presindo.com.
24 November 2025–
Seminar Literasi Sejarah Indonesia yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan di Pandeglang menyoroti pentingnya penguatan sejarah lokal melalui pemanfaatan teknologi digital. Kegiatan ini menghadirkan pemangku kebijakan, akademisi, serta komunitas pendidikan dari berbagai daerah.

Pada sesi diskusi, Anggota Komisi X DPR RI, H. Ali Zamroni, menekankan adanya “jarak sejarah” antara generasi muda dan akar identitas lokal. Ia mengungkapkan bahwa narasi sejarah dari 714 etnis di Indonesia belum sepenuhnya masuk ke dalam buku pelajaran maupun ruang digital.
“Banyak remaja Pandeglang lebih mengenal tokoh viral dibanding tokoh perjuangan daerahnya. Ini tanda bahwa kita harus bergerak cepat,” ujarnya.
Ali Zamroni mengapresiasi beberapa sekolah yang mulai memanfaatkan platform digital untuk proyek sejarah, seperti dokumentasi budaya desa dan penelusuran situs-situs bersejarah.
“Ketika anak muda menjadi pembuat sejarah, bukan sekadar pembaca, minat mereka meningkat,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Sejarah dan Permuseuman, Prof. Agus Mulyana, menilai bahwa digitalisasi mampu memperluas jangkauan sejarah lokal hingga ke tingkat internasional. Ia menyebut Pandeglang memiliki kekayaan sejarah yang besar, mulai dari situs-situs keagamaan, jejak peradaban Banten, hingga peninggalan perjuangan rakyat.
Namun, ia mengingatkan bahwa digitalisasi tanpa penguatan literasi kritis dapat membuka ruang bagi penyebaran hoaks sejarah.
“Di media sosial, narasi keliru bisa viral dalam hitungan menit. Karena itu, literasi sejarah harus menjadi fondasi dari literasi digital,” tegasnya.
Akademisi sejarah, Suparta, menyoroti pentingnya dokumentasi tradisi lisan. Menurutnya, banyak pengetahuan lokal yang hanya diketahui oleh para sesepuh dan belum pernah direkam atau dituliskan.
“Cerita perjuangan, legenda kampung, hingga sejarah ulama adalah harta intelektual. Jika tidak didokumentasikan, kita bisa kehilangan identitas,” jelasnya.
Para narasumber sepakat mendorong gerakan kolaboratif yang meliputi:
digitalisasi situs dan artefak sejarah,
penyelenggaraan lomba konten sejarah lokal untuk pelajar,
pembentukan pusat arsip digital daerah,
dokumentasi manuskrip di pesantren,
serta sinergi dengan kreator digital lokal.
Kegiatan ditutup dengan pesan reflektif dari Suparta:
“Sejarah adalah kompas bangsa. Mari jadikan teknologi bukan hanya alat hiburan, tetapi juga alat untuk merawat ingatan.”







