Polewali Mandar, Presindo.com.— Kementerian Kebudayaan melalui Seminar Literasi Sejarah Indonesia mengajak masyarakat Polewali Mandar menjadikan literasi sejarah sebagai gerakan kolektif, bukan sekadar tanggung jawab akademisi atau sekolah. Kegiatan yang digelar pada Kamis (20/11/2025) ini menekankan pentingnya peran keluarga, komunitas budaya, pemuda, hingga pengurus masjid dalam membangun ekosistem literasi sejarah berbasis masyarakat.
Narasumber Ilham Sopu menyampaikan bahwa sejarah lokal Mandar selama ini hidup melalui tradisi lisan. Cerita-cerita seperti Sallo Pattidi, kisah pelaut Mandar, hingga diplomasi para Tomakaka diwariskan dari generasi ke generasi, namun belum banyak terdokumentasi secara digital.
“Jika tradisi lisan tidak segera kita abadikan dalam bentuk digital, maka ketika generasi tua berpulang, hilanglah jejak sejarah itu. Warga Mandar harus menjadi penjaga sejarahnya sendiri,” ujar Ilham.
Sementara itu, Ratih Megasari Singkarru menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat sangat penting, mengingat penyebaran hoaks sejarah meningkat setiap tahun. Konten palsu kerap menyasar sejarah lokal yang belum terdokumentasi dengan baik.
“Keluarga memiliki peran besar. Cerita sejarah bisa dimulai dari ruang tamu, dari obrolan ringan sebelum tidur. Jika masyarakat sadar pentingnya sejarah, maka hoaks tidak mudah tumbuh,” jelas Ratih.
Narasumber lainnya, Tirmizi S.S dari Direktorat Sejarah dan Permuseuman, menambahkan bahwa literasi sejarah tidak selalu harus dilakukan secara formal. Masyarakat dapat memanfaatkan platform digital sederhana, seperti:
mengunggah foto lama di Facebook atau Instagram,
membuat video pendek di TikTok tentang adat Mandar,
membuat podcast budaya lokal,
mendokumentasikan upacara adat dengan smartphone,
mengumpulkan arsip keluarga menjadi bank data digital.
“Digitalisasi tidak harus menunggu fasilitas besar. Mengunggah foto lama nenek atau merekam wawancara tokoh adat saja sudah merupakan upaya menyelamatkan sejarah,” tambah Tirmizi.
Kegiatan ini juga mendorong pembentukan komunitas digital sejarah Mandar yang berfokus pada pelestarian serta penyebaran informasi sejarah yang kredibel. Dengan lebih dari 67% rumah tangga di Mandar memiliki akses internet, kolaborasi antarwarga dinilai sangat memungkinkan.
Para narasumber sepakat bahwa literasi sejarah harus menjadi gerakan berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan. Gerakan ini diharapkan mampu memperkuat identitas, mengurangi polarisasi di media sosial, dan menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap akar budayanya.
Kementerian Kebudayaan berharap kegiatan ini menjadi langkah awal dalam memperkuat ekosistem literasi sejarah Mandar yang inklusif dan partisipatif.
(Eka, Y-Agus, S)







