Lima Puluh Kota,Presindo.com — Ratusan mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Bupati Kabupaten Lima Puluh Kota, Kamis (7/5/2026), dalam rangka memperingati momentum Hari Pendidikan Nasional.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyuarakan berbagai persoalan pendidikan, khususnya terkait infrastruktur dan fasilitas sekolah di wilayah pelosok Kabupaten Lima Puluh Kota.
Aksi demonstrasi itu diterima langsung oleh Wakil Bupati Lima Puluh Kota, Ahlul Badrito Resha. Di hadapan para mahasiswa, wabup menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah berupaya memperjuangkan berbagai kebutuhan masyarakat, termasuk sektor pendidikan.
“Kalau tidak ada perubahan ke depan, silakan bertanya dan silakan gulingkan pemerintahan ini,” ujar Wabup yang akrab disapa Rito tersebut, disambut teriakan “gulingkan” dari massa aksi.
Dalam kesempatan itu, Wabup juga menjelaskan ketidakhadiran Bupati Lima Puluh Kota, Safni, yang disebut sedang melakukan kunjungan kerja ke daerah lain.
“Bupati memang sedang tidak berada di sini. Beliau meminta wakil bupati untuk menyambut adik-adik mahasiswa. Saat ini bapak bupati berada di Ciamis dan Banyumas untuk belajar pengolahan sampah sekaligus mencari investor,” ungkapnya.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan enam poin tuntutan kepada Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota, yakni:
Mendesak Pemkab Lima Puluh Kota segera melakukan pendataan jalan rusak menuju sekolah-sekolah dan melakukan perbaikan atau pembangunan dalam jangka waktu enam bulan.
Mendesak pemerintah daerah melakukan evaluasi dan pengecekan kualitas internet, meja, kursi, serta infrastruktur penunjang pendidikan lainnya, terutama di sekolah-sekolah wilayah pelosok, serta segera memperbaiki fasilitas yang rusak.
Mendesak pemerataan distribusi listrik ke sekolah-sekolah yang belum mendapatkan akses listrik, dengan target penyelesaian dalam enam bulan sejak tuntutan ditandatangani.
Mendesak pemerintah daerah meningkatkan kesejahteraan guru, khususnya guru honorer.
Mendesak pemerintah daerah turun langsung memantau kondisi infrastruktur penunjang proses belajar mengajar (PBM) di sekolah-sekolah.
Mendesak adanya perhatian khusus terhadap sekolah-sekolah yang berada di daerah terpencil dan pelosok.
Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan dan berjalan tertib. Mahasiswa berharap seluruh tuntutan yang disampaikan dapat segera ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah demi pemerataan kualitas pendidikan di Kabupaten Lima Puluh Kota.
(Eka Yahya)












