Lampung, Presindo.com.— Jumat, 14 November 2025
Dua narasumber Seminar Literasi Sejarah Indonesia, Tirmizi dan M. Nurhayatun Nufus, menutup rangkaian kegiatan dengan pesan kuat mengenai pentingnya menjadikan ruang digital sebagai wadah perawatan memori kolektif bangsa, bukan sebagai tempat berkembangnya distorsi sejarah.
Dalam penutupannya, Tirmizi menegaskan bahwa sejarah merupakan “denyut nadi identitas bangsa” yang menentukan arah masa depan. Ia mengingatkan bahwa tanpa kesadaran sejarah, masyarakat akan lebih rentan terhadap misinformasi dan polarisasi di ruang digital.
Sementara itu, Nufus menekankan bahwa literasi sejarah harus dipahami sebagai bagian dari pembentukan karakter dan penguatan kedaulatan bangsa. Ia mendorong pengelolaan ruang digital sebagai media edukatif untuk menyebarkan nilai perjuangan, identitas lokal Lampung, serta kekayaan warisan budaya Nusantara.
Keduanya sepakat bahwa penguatan literasi sejarah membutuhkan kolaborasi multipihak—mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah daerah, hingga komunitas kreatif digital. Sinergi ini diyakini mampu membantu generasi muda tetap terhubung dengan akar sejarahnya meski hidup di era digital yang serba cepat.
“Dengan memahami masa lalu, kita memperkuat masa kini dan menyiapkan masa depan yang lebih berdaulat,” ujar Nufus dalam penutupan kegiatan.
(Eka, Y-Agus, S)







