Bengkulu, Presindo.com.— Kementerian Kebudayaan terus memperkuat literasi sejarah nasional melalui berbagai inovasi digital. Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Literasi Sejarah Indonesia, Jumat (14/11/2025), yang menghadirkan pemangku kepentingan dari DPR RI, akademisi, hingga komunitas sejarah.

Anggota Komisi X DPR RI Dewi Coryati menegaskan bahwa sejarah merupakan fondasi pembentukan karakter bangsa. Namun di era digital, ujar Dewi, narasi sejarah semakin rentan dimanipulasi.
“Generasi muda harus menjadi pencipta konten sejarah, bukan hanya konsumen informasi,” tegasnya.
Pejabat Kemendikbud Agus Hermanto menyoroti potensi besar Bengkulu sebagai pusat edukasi sejarah nasional. Dengan lebih dari 130 situs bersejarah, Bengkulu memiliki modal kuat untuk menjadi laboratorium sejarah Indonesia berbasis digital. Namun ia mengingatkan bahwa hanya sekitar 40% situs yang rutin dikunjungi, menunjukkan masih terbatasnya keterhubungan masyarakat dengan sejarah lokal.
Akademisi Hardiansyah menambahkan bahwa literasi sejarah tidak hanya berbicara tentang memahami masa lalu, tetapi juga kemampuan membaca realitas masa kini dan memproyeksikan masa depan. Minimnya pemahaman sejarah dapat memperkuat polarisasi sosial dan melemahkan identitas kebangsaan.
Ketiga narasumber sepakat bahwa digitalisasi arsip, museum virtual, dan konten kreatif sejarah adalah strategi efektif untuk menarik perhatian generasi muda. Bengkulu juga dinilai memiliki peluang besar mengembangkan wisata sejarah digital, termasuk tur virtual Rumah Bung Karno, jejak kolonial Benteng Marlborough, hingga dokumentasi tradisi Tabot.
Seminar ditutup dengan komitmen bersama untuk memperluas akses terhadap pengetahuan sejarah melalui platform digital serta memperkuat kolaborasi lintas sektor.
(Eka, Y-Agus, S.)







