Limapuluh Kota, Presindo.com.– Jelang Musyawarah Olahraga Daerah (Musorda) KONI Kabupaten Limapuluh Kota pada 25 September 2025, suhu politik olahraga di daerah ini benar-benar mendidih. Dua kandidat kuat siap bertarung: Budi Febriandi, Wakil Ketua KONI Limapuluh Kota, dan Taufik Hidayatullah Ihsan, Sekretaris Askab PSSI yang juga anggota DPRD Limapuluh Kota.
Namun, jalan menuju kursi Ketua KONI ternyata tak semulus yang dibayangkan. Mahkamah Konstitusi (MK) sudah memberi sinyal keras: pejabat publik dilarang keras rangkap jabatan di tubuh KONI. Aturan ini ditegaskan lewat Pasal 40 UU No. 3 Tahun 2005 dan tetap berlaku dalam UU No. 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan.
Artinya, peluang kandidat yang masih berstatus pejabat publik bisa saja terancam gugur secara hukum.
Putusan MK yang Mengguncang
MK menolak gugatan pejabat yang ingin rangkap jabatan, menegaskan larangan itu demi menghindari abuse of power. “Pejabat publik tak mungkin fokus 100% urus olahraga, karena rawan konflik kepentingan,” tegas mantan Menpora Adhyaksa Dault dalam persidangan sebelumnya.
Dengan kata lain: kursi KONI bukan untuk politisi yang masih duduk di jabatan publik.
Perang Restu Politik
Drama kian panas saat dukungan politik mulai terang-terangan.
Budi Febriandi disebut-sebut sudah mendapat “restu” dari mantan Bupati Limapuluh Kota 2016–2021, Irfendi Arbi, MP.
Taufik Hidayatullah Ihsan tak mau kalah. Tokoh muda ini justru dikabarkan mendapat dukungan penuh dari Ketua DPRD Limapuluh Kota, Doni Ikhlas.
Dua kubu kini saling klaim kekuatan. Di akar rumput, publik terbelah: ada yang menilai dukungan politik bisa memperkuat, ada pula yang khawatir KONI justru jadi ajang rebutan kekuasaan baru.
Taruhan Besar Musorda 2025
Kini, bukan hanya soal siapa yang akan jadi Ketua KONI, tapi juga soal:
Apakah KONI Limapuluh Kota bisa benar-benar independen dan profesional?
Ataukah malah jadi “lapangan hijau” baru bagi para politisi?
Tanggal 25 September 2025 akan menjadi penentuan. Apakah olahraga Limapuluh Kota akan bangkit bersama pemimpin baru yang bersih dari konflik kepentingan, atau justru tenggelam dalam pusaran politik praktis?
Semua mata kini tertuju ke Musorda KONI Limapuluh Kota – panas, tegang, dan sarat intrik!
Sumber: Edwar Bendang
Wartawan: Eka Yahya







