Medan, Presindo.com.
20 November 2025 — Seminar Literasi Sejarah Indonesia yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan di Medan menegaskan pentingnya literasi sejarah sebagai fondasi pembentukan karakter dan identitas generasi muda. Para akademisi dan tokoh pendidikan menyoroti perlunya reformasi pembelajaran sejarah agar lebih kritis, relevan, dan kontekstual.

Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Budaya USU, Prof. Dr. Budi Agustono, menyampaikan bahwa pembelajaran sejarah di sekolah masih terlalu berfokus pada hafalan fakta dan tahun, bukan pada analisis serta pemaknaan sejarah. Ia menekankan pentingnya menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan realitas siswa.
“Anak-anak harus diajak menjelajah Medan, mengunjungi situs sejarah, memindai QR code di gedung heritage, menonton dokumenter lokal, bukan hanya membaca nama tokoh di buku,” ujarnya.
Direktur Sejarah dan Permuseuman, Prof. Agus Mulyana, menambahkan bahwa sejarah memegang peranan penting dalam meredam polarisasi sosial. Tanpa pemahaman sejarah yang kuat, generasi muda rentan terjebak dalam narasi identitas yang keliru—terutama di ruang digital yang penuh informasi simpang siur.
“Sejarah menunjukkan kita kuat karena keberagaman. Tapi nilai itu mudah hilang jika ruang digital dipenuhi narasi keliru,” katanya.
Anggota Komisi X DPR RI, Sofyan Tan, menegaskan bahwa literasi sejarah adalah investasi jangka panjang untuk membangun generasi yang cerdas, toleran, dan tahan terhadap provokasi. Ia mendorong kolaborasi strategis antara sekolah, pemerintah, komunitas sejarah, dan kreator digital.
“Ketika anak muda kehilangan hubungan dengan sejarah, mereka kehilangan identitasnya. Dan itu sangat berbahaya,” tegasnya.
Dalam sesi penutup, seminar menghasilkan sejumlah rekomendasi penting, di antaranya:
1. Pembelajaran sejarah berbasis teknologi dan eksplorasi lapangan
2. Penguatan kurikulum sejarah lokal
3. Integrasi literasi sejarah dengan literasi digital
4. Dukungan bagi komunitas sejarah dan kreator konten edukatif
5. Pengembangan museum dan arsip sebagai ruang belajar yang hidup
Para narasumber sepakat bahwa masa depan bangsa sangat bergantung pada kemampuan generasi muda memahami sejarah secara kritis. Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan arus informasi digital, penguatan literasi sejarah dinilai semakin mendesak untuk menjaga identitas, kebhinekaan, dan daya tahan bangsa.
(Agus, S.)













